Wednesday, August 19, 2015

Gunung Lukapan & Pulo Dua, Amazing Landscape at the edge of peninsula, Central Sulawesi



Kalau ada orang yg tidak menyukai panorama alam, bentang pegunungan dan juga keindahan pemandangan bawah laut pastilah orang bodoh namanya. Meski bukan seorang pendaki gunung dan penyelam, namun gunung dan laut selalu memikat saya. 

Dua setengah tahun sudah saya lewati penugasan di Kabupaten Banggai. Sudah banyak tempat2 menarik yang kami kunjungi selama ini. Sungguh suatu kebetulan mendapatkan lokasi penugasan yang banyak memiliki potensi wisata alam dan dikelilingi teman2 muda berjiwa adventurer untuk mengksplorasi keindahan alamnya.

Di penghujung akhir tugas disini (padahal msh dua setengah bulan lagi..hikss..) saya ingin menutupnya dengan sebuah trip yang berkesan. Sebentuk  perpisahan kepada bumi Celebes sebagai ‘rumah kedua’ saya selama dua setengah tahun terakhir. Dan pilihan saya jatuh pada “Bukit (masyarakat setempat menyebutnya gunung) Lukapan Pulau Dua, Balantak.”

Sebetulnya ini adalah kali yang ketiga  saya berkunjung ke Pulau Dua yang berada di ujung peninsula Sulawesi Tengah. Namun saya masih penasaran banget karena belum sempat mendaki ke bukitnya di dua trip sebelumnya.

Tepat saat azan Subuh kami singgah di sebuah desa (sekitar 8 km sebelum Balantak) untuk sholat subuh dan buang hajat. Baru kemudian melanjutkan perjalanan menuju Balantak. Perjalanan Luwuk-Balantak sendiri memakan waktu sekitar lima jam menggunakan mobil (saat pulang kami menggunakan jalur yang lebih singkat yaitu sekitar tiga jam perjalanan).  

Mentari pagi menyembul malu, mengintip kami yang sedang sarapan roti tawar sesaat setelah tiba di Balantak.

- breakfast at golden moment-


Ohayoo..Balantak
Setelah mengisi perut ala kadarnya, perjalanan dilanjutkan ke desa Kampangar, desa terakhir di penghujung timur Sulawesi Tengah.
Sesampainya di Kampangar segera kami bertanya2 kepada penduduk setempat kiranya ada yg bersedia mengantarkan kami untuk mendaki Gunung Lukapan.

Atas saran seorang penduduk setempat, kami menuju ke rumah kepala desa Kampangar untuk minta dicarikan pemandu.

Singkat cerita, setelah mendapatkan pemandu kami segera menuju ke kaki Gunung Lukapan.




Jalur ini nggak saya rekomendasikan bagi yang membawa kendaraan roda empat. Soalnya masuk kebun2 yang kondisi jalannya bumpy dan banyak ranting2 yang potensial membuat cat mobil tergores.

- point terakhir sblm pendakian -



"Farewell Trip"-nya Krisnoy, yg akan demob akhir bln ini
Soon I'll be the only one of "Dewan Syuro Nyilemers" left at site...hikss...


Meskipun keliatannya ngga terlalu tinggi, jangan dikira bukit ini gampang untuk didaki. Kemiringannya cukup membuat repot, terutama bagi yang jarang berolahraga, kelebihan berat badan dan juga 'saltum' karena tidak memakai alas kaki yang tepat. Belukar dan semak berduri dikaki bukit pun udah sukses menoreh 'tanda' di punggung telapak kaki saya.

Beberapa dari kami tertatih dan terseok seok sehingga memerlukan bantuan rekan yg lain. Kalo ngga ati2 salah salah bisa jatuh dan terguling ke jurang.

"Difficult Roads Often Lead to Beautiful Destinations"


Finally.....(setelah pendakian dengan medan sulit yang sukses membuat bbrp dari kami lecet2 dan berdarah2)



- Euphoria Merah-Putih -





Dirhagayu RI ke 70 !


Indonesiaaa....Ai lop yu pull...



Panorama view

* Nyesel banget ga sempat naik ke bukit ini bersama2 Dewan Syuro Nyilemers :(

 
Pulo Dua, view from Gunung Lukapan

di sisi ini malah pasirnya putih

Cokelat-Hijau-Biru


 
- Terik -

- exhausted & dehydrated -

kuning-coklat (di musim hujan bukit ini berubah warna menjadi hijau)

Ketika turun dari bukit kami melewati sisi satunya yaitu yang mengarah ke pantai. Bagi yg punya waktu terbatas saya saranin naiknya juga melalui sisi yg ini. Ngga usah niru rute kami yg mengakibatkan harus ngambil mobil lagi di perkebunan kelapa dengan jarak yg lumayan bikin kaki yg udah nyut2an ini tambah gempor..huhuhu..

Ayookk..tinggal sedikit lagi ....

Setelah beristirahat sejenak dan dilanjutkan makan siang di Balantak kami menuju pantai utk menyeberang ke Pulau Dua.

ketinting n snorkeling

Di balikPulau Dua (pulau yg lebih besar) ada cottage yg belum lama berdiri. Bangunannya lumayan bagus. Rencana awalnya kami berniat bermalam disana. Namun sayangnya sampai dengan saat kami berada disana cottage tsb belum dikelola dengan baik. Akibatnya fasilitas2nya banyak yg rusak. Entah kenapa cottage yg tentunya dibangun dengan dana yg tidak sedikit tsb dibiarkan terbengkalai. Di pantai depan cottage tsb kami bersnorkeling ria.

Underwater viewnya lumayan clear, koralnya warna warni. Namun sayang ikannya sedikit sekali. Mungkin karena saat itu airnya lg dingin banget. Kami yg snorkelingan sampe menggigil setelahnya. Dibandingkan dengan beberapa spot snorkeling lainnya yg pernah kami datangi, spot ini kurang menarik lah. Menurut saya masih jauh lebih bagus di Pulau Dua bagian pulau yang kecilnya.

Sekian, Trip Reportnya.

Every journey has an end........(my assignment as well..hehe..)

Mampir di Bukit Keles Luwuk untuk sekedar minum saraba dan mie instant


 * Thanks to Uun, Erva dan Kinan buat foto2nya






Thursday, March 26, 2015

Hattrick Togean !!

Dalam dua tahun terakhir, libur dua hari berurutan merupakan sebuah kemewahan buat saya. Karena cuma di dua hari libur berurutan inilah yang memungkinkan untuk berlibur ke Togean.
Maka, di Jum’at malam menjelang libur Hari Raya Nyepi lalu kami berangkat menuju pelabuhan Bunta, tempat  penjemputan kapal yg akan kami gunakan untuk menyeberang ke Togean.
Biar nggak perlu nginap di Bunta, sengaja kami berangkat menjelang tengah malam dari Luwuk, setelah kongkow kongkow… ngopi sejenak sambil ngedengerin live music di sebuah kafe terbuka.
Sabtu pagi menjelang fajar pun kami sudah sampai di Bunta. Setelah sholat subuh dan sarapan ala kadarnya dengan bekal yang kami bawa, kami segera menuju pelabuhan dimana kapal kami telah menunggu sejak malam harinya.
Dan inilah yang menyambut keberangkatan kami ke Togean, membuka hari indah kami dengan penampakan lukisan alam yang tiada duanya. Sebentuk kurva pelangi setengah lingkaran sempurna !
 


Kereenn..kaann ?  Pernah nggak kalian ngeliat yg kayak gini ?
Jujur aja… baru kali ini saya nyaksiin secara langsung pelangi yang kedua kakinya menyentuh horizon. Subhanallah…kereenn bingits ..!!
 
Tak menunggu lama, kapal pun segera angkat sauh begitu semua peserta rombongan kami naik ke kapal dan langsung membelah selat Tomini menuju ke Togean. Di tengah perjalanan terlihat beberapa lumba lumba melompat lompat di kejauhan.
 
The Mirrors

Siapa yang bisa menolak melihat pemandangan seindah ini

 
 "Sekali dalam setahun, pergilah ke tempat yang belum pernah kau datangi sebelumnya”. 
Entah darimana asal muasal kutipan yg pernah saya baca dalam sebuah blog ini. Yang jelas, saya setuju banget dengan ‘kalimat saran’  tsb.
Jadi meski ini adalah kali yang ketiga kami berlibur ke Togean, saya sama sekali nggak minat untuk menginap di resort yang pernah kami singgahi sebelumnya.
Di kunjungan pertama, kami menginap di Poyalisa - sebuah pulau cantik di ujung barat kawasanTaman Nasional Kepulauan Togean (laporan perjalanannya bisa dibaca disini).
Di kunjungan ke-dua kami menginap di Kadidiri - sebuah resort yg berada di tengah2 kawasanTaman Nasional Kepulauan Togean (laporan perjalanannya bisa dibaca disini).
Kali ini pilihan kami jatuh pada Bolilanga Resort
Bolilanga pulaunya cukup cantik dan resortnya lumayan bagus. Yang terpenting buat kami yaitu tersedianya air bersih yang cukup untuk sekedar mandi dan BAB.  Soalnya di Togean itu susah untuk mendapatkan air bersih. Selain itu pulau ini memberikan bonus yang lain (akan saya ceritain kemudian).
 
Bolilanga Island

Selesai check-in dan makan siang di resort, kami segera naik kapal lagi untuk menuju Pulau Papan, salah satu tempat permukiman Suku Bajo di Togean. Tahun lalu kami juga mampir kesini,  namun kecewa karena jembatan kayu yg menghubungkan Pulau Papan dan Pulau Malengenya banyak yg rusak.

Bersama anak anak suku Bajou - Pulau Papan
 
Alhamdulillah kali ini sudah diperbaiki oleh pemerintah setempat dan kelihatan jauh lebih kokoh. Sayangnya kami terburu buru selama ada di tempat ini karena mesti nyari spot untuk snorkeling. Jadi di kesempatan kali inipun kami nggak sempat nyeberangin jembatannya…. Hiksss…hiksss…
 
Dari Pulau Papan kami menuju Hotel California, sebuah spot terumbu karang yg juga udah pernah kami kunjungin tahun lalu. Namun saat ini di tempat ini telah berdiri bangunan yang kokoh dan papan nama yang menunjukkan bahwa tempat tsb adalah sebuah area konservasi, khususnya terumbu karang.

Hotel California Reef (Kiri : Bangunan Baru ; Kanan : bangunan Lama)

Gubuk reyot legendaris - penanda spot Hotel California yg lama - juga masih ada, meski kondisinya makin laa yahya wa laa yamuut…hehe…
 
Snorkeling at Hotel California Reef
 
 
Diantara sekian daya tarik Kepulauan Togean, sunset moment adalah salah satunya.
Kamipun memutuskan untuk menikmati saat2 matahari terbenam di Hotel California.
 
Menunggu Sunset @ Hotel California Reef
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 



Sunset Moment
Setelah kembali ke resort, mandi dan makan malam, saya dan beberapa teman pergi ke dermaga Bolilanga. Tahukah kalian, di Togean itu kita bisa ngeliat bintang jelas banget. Kayak di planetarium gitu deh. Sungguh obyek yg sempurna  untuk belajar moto bintang (sayangnya masih belom bisa juga...hiksss....). Dan tiga fotografer amatiran 'trial n error', gimana caranya supaya bisa moto bintang.


The resort at night
  

Belajar moto bintang

Anak2 cewek datang bergabung, ambil posisi dan tiduran terlentang diatas dermaga sambil nerawang ke langit ngeliatin bintang. Barangkali dalam hatinya bilang, “Tuhan...tunjukkan padaku…bintang yg manakah jodohku ? Buatlah bintang tsb berkedip sbg tandanya”.  Dan sebagian merasa ngeliat pertanda bintangnya ‘blinking’…tuing…tuingg…Hahaha…
Malam harinya hujan cukup lebat dan ternyata berlanjut hingga esok paginya.
“Waduhh…bisa gagal semua acara hari ini,“ pikir saya. Sudah jam delapan pagi dan kapal kami yang malamnya pulang ke Wakai belum juga  datang.

Akhirnya sambil gerimis kecil kami snorkeling di depan cottage.
Nyesel banget ngga nyebur dari pagi sambil ujan ujanan.
Inilah bonus yang saya maksud, terumbu karang dan ikan ikannya oke punya….ternyata.
 


 
 
Belum puas snorkeling di house reef Bolilanga, kapal kami tiba2 datang. Terpaksa ‘mentas’ deh, biar bisa segera pergi ke danau ubur ubur.
Ternyata ada yg baru di danau ubur ubur. Pemerintah atau dinas pariwisata setempat juga membangun bbrp fasilitas di lokasi ini.

Mariona - The Jellyfish Lake
 
Nggak ada kata bosan buat saya, berenang dan menikmati sensasi berenang bersama ubur ubur. Cuma kali ini kondisi airnya seperti air gula. Jadi foto fotonya hasilnya nggak bisa 'clear'. Suhu airnya juga berubah ubah. Kadang airnya terasa anget, tiba tiba jadi dingin dan sebaliknya. Sepertinya terjadi percampuran antara air laut dan air danau tsb. Semoga ubur uburnya nggak bermutasi jadi menyengat lagi. Seandainya ubur ubur sebesar itu dan sebanyak itu menyengat, bisa dibayangkan. Hiiiiiyy...........
 

Puas berenang bersama ubur ubur kami pun kembali ke resort.
Setelah mandi bilas dan makan siang kamipun check out dan segera naik kapal lagi menuju Bunta.

Beruntungnya, di perjalanan pulang ombak keliatan sangat tenang. Bahkan seperti di danau yang tanpa riak gelombang. Dari puluhan kali kami ‘melaut’ baru kali ini saya rasakan laut setenang ini. Sesekali muncul ikan ikan terbang yang melayang diatas air sampai jarak yang lumayan jauhnya.


The Models (dalam perjalanan pulang)
Plan B : Kalo gagal jadi fotografer mo jadi model aja :p
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Thursday, August 21, 2014

Luwuk Banggai Yang Kaya Akan Air Terjun



Bicara mengenai keindahan alam, Luwuk memang ngga ada matinya.  Lansekap yang memukau berupa kombinasi antara pegunungan dan laut menjadikannya kaya akan potensi wisata.

Ada bbrp air terjun yang sudah saya sambangi di daerah Luwuk dan sekitarnya.
Diantaranya adalah  :
  • Air Terjun Salodik
  • Air Terjun Hanga Hanga
  • Air Terjun Tontouan
  • Air Terjun di Lamo (Kec. Batui)
  • Air Terjun Batu Tikar 
  • Air Terjun Laumarang.

Dua air terjun yang saya sebutkan terakhir adalah yang paling indah, menurut saya.


Air Terjun Batu Tikar
Untuk sampai ke air terjun ini kita mesti menempuh  trekking yang cukup melelahkan. Menyeberangi sungai2  kecil, menembus hutan dan medan yang cukup ekstrim harus kita lalui. Tak jarang kita harus berpegangan pada akar2 tanaman untuk mendaki ke atas. Terdapat bbrp air terjun kecil di bawahnya. Perjalanan yang melelahkan akan segera terbayar begitu kita sampai di puncaknya, yaitu air terjun batu tikar tsb.

Narsis di Air Terjun Batu Tikar :p


Suegerrr.....


Air Terjun Laumarang
Inilah juaranya air terjun di Luwuk. Namun dikarenakan sulitnya mencapai air terjun tsb, membuat tak banyak orang yang pernah mengunjungi tempat ini. Namun percayalah, sesampainya disanan anda akan takjub dengan keindahan air terjun ini. Terlebih lagi jika anda terus naik keatas, karena air terjun ini terdiri dari 3 tingkat.

Juaranya Air Terjun di Luwuk

Kolam Renang Ekstrim :)

Deg deg-an juga pas potonya..hehe..



Monday, May 26, 2014

Menjelajahi Bangkep


Purnama diatas Selat Peleng

Purnama memantulkan kemilau peraknya di riak gelombang laut, mengiringi perjalanan kami menyeberangi Selat Peleng untuk kemudian memasuki Teluk Bangkalan menuju Salakan, kota pelabuhan sekaligus ibukota Banggai Kepulauan. 

Perahu kayu raksasa ini lumayan penuh muatannya, bukan cuma mengangkut penumpang saja, namun juga dipergunakan sebagai alat transportasi berbagai komoditas dagang yang menghubungkan masyarakat di Banggai kepulauan dan Banggai daratan.

Setelah sekitar empat jam mengarungi samudera, kapal merapat di Salakan. Waktu menunjukkan kurang lebih pukul satu dinihari. Segera suasana hiruk pikuk di pelabuhan menyergap, menyambut langkah pertama kami di Pulau yang mungkin namanyanya saja tidak cukup dikenal oleh mayoritas penduduk Indonesia. Pulau lumayan besar ini bernama Pulau Peling a.k.a Pulau Peleng




Pada Sebuah Kapal
(kayak judul sebuah novel..hehe.. )


Sebetulnya ini adalah kali yang kedua saya menginjakkan kaki di Salakan. Namun di kesempatan yang pertama, saya cuma punya waktu hanya satu jam karena harus segera kembali lagi ke Luwuk.
Beruntung salah seorang teman kami (inisialnya Y-A-N-A) memiliki kerabat di Salakan, tak jauh dari pelabuhan sehingga kami bisa menumpang istirahat di rumah beliau. Sebagian diantara kami melanjutkan tidur yg terinterupsi perjalanan yang harus ditempuh dengan jalan kaki dari pelabuhan. Sebagian kecil-termasuk saya-malah asik mengobrol sampai terdengar azan subuh,  membahas kondisi politik terkini dan masa depan negeri ini (berattt… eeuuyyy……..).

Saat asik ngobrol tiba2 terdengar suara rintihan, seperti suara rintihan perempuan. Anehnya suaranya datang dari ruang tengah.  Padahal cewek-2 tidurnya di kamar.  Kami yg masih terjaga dan mendengar suara tsb cuma senyum-senyum.

 “Ngorok….”, kata Om Yul.
“Siapa yg ngorok ?“, tanya saya.
“Bang Roz”, jawab Pak Hagung.
 “Oooo…….”

Paginya Bang Roz Komplain. Dia semalam “tindihan” (fenomena seperti tubuh dibebani sesuatu, ingin banget bangun tapi nggak bisa). Bang Roz sangat berharap ada yg dengar dan membantunya bangun.

“Koq ngga ada yg bangunin aku sih. Aku berharap banget ada yg denger dan berusaha ngebangunin”, katanya.

“Ya maappp…., kirain ngorok beneran, Bang…    HaHaHa……

Sepulang sholat subuh di masjid dan hari mulai terang, kami baru menyadari bahwa komplek perumahannya meskipun sederhana namun tertata rapih. Jalan yang mulus dan lebar dilengkapi dengan selokan di kedua sisi jalan. Sebuah perencanaan konsep pemukiman yang cukup matang.

Setelah semua bangun dan sarapan roti selai, kami segera berangkat menggunakan mobil sewaan menuju Bulagi Selatan, tempat obyek wisata Lalanday.

Berhubung supir yg kami sewa belum sarapan dan sekalian bungkusin nasi untuk kami, akhirnya kami berhenti dan nyari nasi kuning dulu di pasar Salakan. Sambil nungguin si supir nyari nasi kuning, kami bersantai santai dulu…

Suatu Pagi di Salakan


Jalan menuju Bulagi cukup mulus secara merata, meski relatif sempit dan berkelok kelok, seperti halnya jalur Trans-Sulawesi. Namun kondisinya jauh lebih baik daripada jalur Trans Sulawesi di Banggai daratan.

Menginjakkan kaki di Banggai Kepulauan seperti membawa kami  ke masa silam. Masa sebelum era modernisasi yang membawa budaya materialistis dan hedonis  melanda negeri ini. Tak banyak kendaraan lalu lalang disini. Tak banyak pula bangunan berlantai lebih dari satu. Masyarakatnya hidup sederhana dengan mengandalkan mata pencaharian dari sektor kelautan dan perkebunan.

Sepanjang perjalanan, kendaraan bermotor yang berpapasan dengan kendaraan kami bisa dihitung dengan jari. Sepi banget, kaannn ?

Kurang dari dua jam menempuh jalan darat dari Salakan, kami tiba di Lalanday, sebuah obyek wisata di Bulagi Selatan. Obyek wisata ini sebetulnya lumayan fasilitasnya. Jalannya bagus dan dibuat ada gazebo gazebo  untuk tempat istirahat. Namun karena kunjungan wisatawan ke Pulau ini sangat sedikit, otomatis tempat ini sepi pula dari wisatawan.

Panorama Lalanday

Siapa yang menyangka di bawah air yang tenang ini arusnya begitu kuat
 
Obyek wisata Lalanday merupakan tempat pemandian air tawar yang berbatasan langsung dengan laut. 

Setelah menceburkan diri saya baru menyadari bahwa arus dari sumber air tawar yang mengarah ke lautnya cukup kuat dan tidak terlihat dari permukaan karena dari atas terlihat sangat tenang. 



Ini sebuah pengalaman baru buat saya, berenang diantara campuran air tawar dan air asin. 

Di dalam air, percampuran kedua jenis air yang berbeda berat jenis itu seperti air gula yang kita aduk untuk membuat minuman. Suhunyapun berbeda drastis. Kadang saya merasakan hangat (seperti biasanya berenang di laut), dan tiba2 berubah menjadi dingin seperti ketika mandi di sungai.

Menurut kepercayaan sebagian masyarakat Jawa, tempat pertemuan air tawar dan air laut biasanya merupakan kerajaan siluman. Kalo emang bener, koq pinter banget silumannya ya..milih tempat yg secantik ini…hihihi…

Sebuah ketinting kecil lumayan menghibur kami untuk dipakai bersampan bergantian. 

 
 





Yang perlu dicatat adalah arus yang cukup kencang tersebut bisa menimbulkan kepanikan ketika berenang, karena berat sekali untuk  kembali ke tepian dikarenakan kencangnya arus di bawahnya yang mengarah ke laut meskipun kelihatan tenang di permukaannya. 

 
 


Setelah puas dan mandi bilas di kolam air tawar, kami segera meneruskan perjalanan kembali ke Salakan. Di perjalanan kembali ke Salakan, kami mampir di dua spot wisata yaitu air terjun Patukuki dan Pantai Teduang.

Air Terjun Patukuki dan Pantai Teduang

Setelah makan siang di Salakan (banyak rumah makan sederhana di sekitar pelabuhan), kami sempatkan mengunjungi Monumen Trikora. Rupanya Salakan ini pernah menjadi tempat berkumpulnya (meeting point) kapal kapal perang RI saat peristiwa Pembebasan Irian Barat. Jalan masuk ke monumen ini melalui sebuah lapangan sepak bola dan di bagian bawahnya terdapat relief yg menggambarkan  persiapan penyerangan.




Diatasnya sedikit, terdapat monumen dengan daftar nama namal kapal perang RI yang ikut serta dalam operasi militer tersebut. Untuk mencapai Tugu Trikoranya sendiri  kita harus menaiki anak tangga yang lumayan tinggi. Lumayan capek deh, buat yg jarang olahraga seperti saya…hehehe…
Tiba di puncaknya kita bisa melihat pemandangan kearah laut. Barangkali ini maksud dari pembuatan tugu ini di tempat yang cukup tinggi. Supaya kita bisa membayangkan saat saat Pelabuhan Salakan dipenuhi oleh kapal kapal perang RI yang dulu cukup ditakuti oleh Belanda. 


Monumen Dan Tugu Trikora

Andaikata bangsa kita bisa kembali seperti itu, sebagai bangsa yang memiliki harga diri dan disegani bangsa asing. Semoga perjuangan merebut tanah Papua yang sangat dramatis dan menewaskan Komodor Yos Sudarso itu dapat kita bayar dengan menjaga agar tanah Papua tetap berada dalam bingkai utuh NKRI. Sebab menurut sumber yang saya baca, penguatan armada maritim sehingga menjadi armada terbesar di Asia pada waktu itu menggunakan dana pinjaman luar nergeri yang sangat besar (dengan kondisi devisa yang belum cukup) yang kelak menimbulkan gejolak inflasi.

Setelah puas dan berfoto2, kami berpamitan ke keluarga Yana dan segera kembali ke pelabuhan dengan menumpang kapal cepat ke Luwuk. Dengan kapal cepat, kami hanya butuh waktu satu setengah jam ke Luwuk.

Kapal Cepat - ada pramugarinya lohhh...

Selamat tinggal Pulau Peleng. Potret daerah2 di pulau Jawa di tahun 80-an (kata Om Ikhwan, loohh…)

Lansekapmu yang elok berupa kombinasi pegunungan dan pantai sungguh menyejukkan hati. Ahh…andaikata pulau ini letaknya tak jauh dari tempat tinggal saya (ngelamun lagi). 
Namun kalau dipikir-pikir, biarlah pulau elok ini tetap berada disini. 
Jauh dari jangkauan tangan2 kapitalis rakus di pulau besar bagian selatan Indonesia sana.




Thursday, April 10, 2014

Menjamah Surga Togean (Lagi)


Togean dan seribu keindahannya memang selalu memikat saya.
Alhamdulillah, keinginan untuk mengunjunginya lagi akhirnya benar benar kesampaian kali ini

Trip ke Togean ini sudah masuk agenda 'Nyilem Kleb' sejak kalender 2014 dirilis :)
Pasalnya kami butuh waktu minimal dua hari libur untuk kesana. Dan setelah setelah kalender 2014 dilihat, diraba dan diterawang dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya (emangnya proklamasi ?), kami temukan bahwa dua hari libur berturut turut cuma ya cuma tanggal ini kesempatannya. Selain libur hari raya, libur2 panjang yg lain bagi kami yg kerja dari Senin sampai Sabtu merupakan harpitnas...(hikss..).

Lagi  males nulis ceritanya nih. Cerita lengkapnya bisa dibaca di blognya kriznoy disini yach. Pokoke dijamin kumplit ceritanya deh :)

Berikut saya share sedikit foto2 Togean jilid-2.
Togean jilid-1 nya bisa dilihat dan dibaca disini



Perkampungan Suku Bajo di Pulau Papan.
Sayang jembatannya mulai rusak, bahkan putus di bbrp bagian :(

Diantara beberapa perkampungan suku Bajo yg pernah saya kunjungi, perkampungan suku Bajo di Togean-lah rasanya yang kondisinya paling bersih. Liat aja kondisi air laut dibawahnya. Tetap jernih dan sebagian berwarna hijau tosca. 

Begitu pula dengan kondisi terumbu karang dibawahnya yang relatif terawat. Kelihatannya mereka tidak - atau setidaknya jarang-   menggunakan bom untuk menangkap ikan.

Mudah2an kearifan lokal ini tetap terjaga selamanya. Bahkan jika mungkin dapat ditiru suku2 Bajo di tempat lain.





Melihat dari dekat jembatan kayu yang menghubungkan Pulau Papan dan Pulau Malenge sudah sejak tahun lalu jadi obsesi saya. Sayangnya ketika kami kesana jembatannya rusak dan putus di beberapa bagian hingga tidak memungkinkan bagi kami untuk melewatinya :(

Penduduk setempat sempat bilang bahwa bbrp waktu yg lalu ada wisatawan yang jatuh tercebur ke laut ketika mencoba meniti jembatan ini. Hmmmhhh....jika saja pemerintah setempat peduli akan warganya sekaligus potensi wisatanya tsb, tentulah jembatan ini segera diperbaiki.


Pulau Papan - Pulau Malenge
Jembatan kayu panjang yg kesohor tersebut perlu segera diperbaiki



Nyilem Kleb @ Pulau Papan

Secara umum, saya sangat menyukai langit diatas tanah Celebes ini. Terlebih lagi langit diatas Kepulauan Togean. Tarian awan beraraknya yang memukau diantara terik matahari, semburat jingga langit senja, taburan gemintang yg terlihat jelas di malam hari, hingga kemilau sunrise-nya...Woww......


Sunset @ Kadadiri Paradise Resort


Sunrise moment @ Taipi Island

Jarang ada tempat dimana kita bisa menyaksikan keindahan sunset dan sunrise sekaligus. 

Di Togean-lah kita bisa mendapati keindahan pada kedua momen tsb.

Dari Kadadiri Resort, kami hanya  perlu berperahu bbrp menit ke Pulau Taipi untuk menikmati sunrise.









Underwater View @ Hotel California & Taipi Island

Karina Beach, pesonanya bikin narsis ngga abis-abis :p
Sayang sekali pu'un kelapa 'icon Pantai Karina' cuma tinggal batangnya :(


Inilah klimaks dari trip kali ini dan betul2 membuat kami puas, yaitu berenang di danau ubur-ubur. Konon, sebelumnya pernah dinyatakan bahwa di seluruh dunia hanya ada tiga tempat yg dihuni oleh ubur ubur yang tidak menyengat, salah satunya yaitu di Danau Kakaban di Pulau Derawan. Nyatanya di Togean juga ada !!


Atas : Ssssttt...dibalik karang itulah danau ubur2 tersembunyi.
Bawah : The Jellyfish Lake



Me & Stingless Jelly Fish
Rasakan sensasi berenang bersama ubur-ubur tanpa takut tersengat



Lomba narsis bareng ubur-ubur..



Sekian dulu ya...lain kali kalo ada kesempatan disambung lagi (gaya penutup surat jadul..hehe..)


* Dan korban kutukan HaPe di trip kali ini adalah :



 
Lain kali HP-nya jangan diajak snorkeling yach...



Wednesday, January 15, 2014

Dondolang Coret (Untold Stories)

# Kutukan Hiu

Diantara pekatnya malam, dalam perjalanan di atas mobil bak terbuka Khrisna menceritakan pengalamannya saat snorkeling di Pulau Tinalapu siang harinya.

"Karena snorkeling di tempat kalian terlalu mainstream, aku coba ke sisi pulau yg satunya. Pertama aku ngeliat anak hiu, aku ikutin tuh. Tiba2 muncul emaknya yang badannya segede orang dewasa. Buru2 aku lepas alat snorkeling dan berenang sekencang kencangnya ke pinggir deh. Hiiiiiiiiiiiiiiiiiiii...............!!!!"


#Kutukan Kaos Nyilem Kleb

Saya pasang target, kaos seragam Nyilem Kleb harus bisa kami pakai di Pulau Dondolang. Untuk itu saya tidak berani menggunakan jasa kargo. Melesetnya jadwal delivery membuat saya sempat marah marah dengan pihak2 yang terlibat dalam rantai pengiriman kaos tersebut. Pada akhirnya kaos tersebut bisa sampai tepat saat kami akan berangkat menuju Pagimana.


# Kutukan HP

Di postingan trip ke Pulau Boba saya ceritakan bahwa dalam beberapa trip teman2 harus merelakan HPnya almarhum karena HPnya ngambek nggak diajak snorkeling :p

Dan kali ini rupanya giliran saya :(



Hal buruk lainnya yg menimpa saya dalam trip kali ini yaitu jebolnya tas ransel Navi Club yg setia menemani selama bertahun tahun dan juga sandal Eiger abal-abal yg belum lama saya beli (hikksss...hikksss....)

Oalahhh...Ngasibbb....ngasibb.....(kayaknya saya nih, yang mesti diruwat)