Friday, September 13, 2013

One Day Trip to Makailu Island



This is the first time for me composing blog in English. Even honestly, I feel unconfident with my English. Perhaps this way can make visitors from overseas countries read my blog (It must be an unintentionally visit..haha..). 

I’ve just put flag counter in this blog in order to observe how many visitors from others countries get lost in the cyber world to my blog J. Hahaha…welcome to my spider web, a nice place that will make you don’t wanna quit :)

Anyway, thank you for visiting my blog. Hopefully you can get a little bit information here.

For the time being I will tell you about our last trip to Makailu Island. Do you know where the island is? Have you ever heard about the island?  I myself don’t ever imagine that someday I will set my foot on this very small island.  So, please keep your attention to read below story.

Makailu on the map (see the red arrow)




Makailu Island is located nearby Peleng Island in Banggai District, Central of Sulawesi. Local people here call this island as Pulau Tikus. I don’t wanna tell you what is the background or the story behind why it’s called as Pulau Tikus by the reason of possibly create bad impression. Obviously, Tikus (mouse) itself has a negative connotation. Thus, I prefer call it as its original name, “Makailu”.

Before we left for the island, I tried to measure how far the distance from our camp through google earth. It said about 23 km from our camp. That’s not too far, then. Moreover we didn’t need to drive car first, but only walk about 150m to the beach where our rent-boat was parked.


Somebody wears wrong costume :)

We boarded on the boat at 6.00 am. Wishing that lord of the sea will be in our side since rainy season was still not went by yet. Well, the journey began. During the sailing, some of us luckily saw a dolphin jumped beside our boat.  

After 1.5 hrs sailing across the sea, we landed at Makailu Island. No people stay at the island. It is surrounded by white sands with turquoise blue crystal water-sea. 

white sands and glassy shallow water




















 
We’ve just landed when a fisherman showed up and asked us to buy his fishes. We bought two big fishes from him and everybody took pictures before they were grilled. 

really fresh fishes
 
Right after unloading our backpacks and logistics, we wore our snorkel sets and started to swim. It made us a bit disappoint that we found so many plants (a kind of seaweeds) nearby the coast and only few of coral reefs could be seen. 

One thing made us happy at that time that we found colorful of starfishes there. We didn’t see this kind of starfish at Togean Islands nor Pulau Dua Island. 


me & starfish



































The main purpose of this trip was to explore underwater view surrounding this island and some of us were equipped by snorkeling set. What I read in internet about the beautiful underwater view here seemed overrated. But on the way back from the island we’d just noticed that the best spot for snorkeling is quite far from the coast (about 100 m). 

snorkeling spot (+/- 100 m from the beach)










another shape of starfish
































But overall this is a beauty island. White sands, coconut and pine trees, clear water for swimming made us feel comfort. Besides we’re the only one group and felt like in a private island.


"maknyuss''

nature picnic


 

Thursday, June 27, 2013

Trip to Pulau Dua, Balantak : Surga Tropis di Kabupaten Banggai


Pesona Pulau Dua


Bumi Celebes ini memang sangat kaya akan potensi wisata alam. Dan salah satunya yang sangat saya rekomendasikan untuk dikunjungi adalah Pulau Dua yang terletak di Kabupaten Banggai Sulawesi Tengah.

Sungguhpun Pulau Dua telah dinobatkan sebagai maskot pariwisata Kabupaten Banggai, namun sedikit sekali referensi laporan perjalanan dari para blogger traveler mengenai Pulau Dua ini. Mudah2an laporan perjalanan singkat saya ini nantinya bisa jadi salah satu sumber referensi bagi para traveler.


Island of Pulau Dua, Balantak


Me @ Pulau Dua, 'Fascinating Banggai'


Pertama kali saya mengetahui tentang Pulau Dua kalau tidak salah yaitu pada saat saya mengadakan perjalanan dinas ke Luwuk, bulan puasa tahun yang lalu. Kala itu saya melihat poster besar dengan tagline “Fascinating Banggai” di Bandara Syukuran Aminuddin, Luwuk.

Untuk menuju Pulau Dua, dari kota Luwuk berkendaralah kearah timur hingga perbatasan Luwuk Timur menuju Kecamatan Balantak. Penyeberangan terdekat ke Pulau Dua yaitu dari Desa Kampangar di Kecamatan Balantak dengan lama penyeberangan sekitar 10-15 menit. 

Sayangnya kondisi jalanan menuju ke Balantak kurang bagus. Banyak sekali jalanan berlubang yang membuat kita harus ekstra hati2. Saran saya, gunakanlah kendaraan jenis SUV. Atau jika harus menggunakan MPV, pilihlah kendaraan dengan ground clearance yang tinggi. Barangkali lantaran kondisi infrastruktur jalan yang  kurang baguslah yang membuat sedikit sekali orang berkunjung ke Pulau Dua.

Namun percayalah, buruknya kondisi jalan akan terbayar lunas (kontan ‘n ga pake nyicil) begitu anda menyeberang dan menginjakkan kaki ke Pulau Dua. Pegunungan yang hijau dan gugusan karang karangnya sungguh memanjakan mata. Apalagi setelah kami mulai snorkeling dan mendapati bahwa pesona terumbu karang bawah lautnya demikian mempesona.


Pesisir Kampangar, Balantak - Persiapan Menyeberang

Dari pantai penyeberangan ke Pulau Dua di desa Kampangar, kami menyewa perahu pariwisata yang tersedia disana.

Gerimis pagi itu membuat kami menunda sejenak perjalanan menyeberang ke Pulau Dua.

Dan setelah gerimis mulai reda, petualanganpun dimulai.

Sayangnya cuaca yang mendung membuat keindahan awan kurang terlihat.

Padahal langit di Sulawesi Tengah ini sangat bersih dan keindahan tarian awannya sangat saya sukai.





 

Hanya  sekira 10-15 menit berperahu, sampailah kami di pulau tak berpenghuni tersebut.

Tidak ada rombongan wisatawan lain pada saat kami mengunjungi Pulau tersebut. Jadi serasa private island, gitu dehh..

Dua bongkah batu karang besar mengingatkan saya akan Tanjung Layar di Sawarna, Banten, meski berukuran lebih kecil.

Pasir di pulau ini sebagian tidak terlalu putih dan tidak begitu halus, sehingga agak amblas jika diinjak. Namun tetap saja tidak mengurangi nilai keeksotisan tempat tersebut.


Terumbu Karangnya Masih Banyak Yang Hidup

Yang kami tidak duga sebelumnya yaitu keanekaragaman bawah lautnya. Bahkan rekan rekan yang ikut trip dengan saya ke Togean satu bulan sebelumnya mengakui bahwa keindahan terumbu karangnya melebihi Katrin Reef, sebuah spot snorkeling di sekitar Pulau Bomba di Kepulauan Togean.

Terumbu karangnya beberapa berukuran besar dan jenis hewan lautnya beraneka ragam.

Sayang sekali, masih belum puas kami bersorkeling sebetulnya. Namun jarak perjalanan yang tergolong cukup jauh, mengharuskan kami untuk segera pulang.


Tetap Narsis di bawah Air

Wajah Wajah Haus Hiburan...HaHaHaaa....



Snorkeling @ Pulau Dua

Nikmatnya santap siang di pulau selepas snorkeling



Tips ke Pulau Dua

1. Sediakanlah waktu yang cukup dengan memperhitungkan waktu perjalanan, agar bisa minimal seharian menikmati keindahan pulau tersebut.

2. Bawalah kendaraan dengan ground clearance yang tinggi, karena kondisi jalanan menuju Balantak pada saat tulisan ini dibuat banyak yang rusak. Mudah2an pemerintah Banggai membaca blog saya ini dan segera mengadakan perbaikan jalan...hehe..

3. Di Kota Kecamatan Balantak ada sebuah penginapan yang sederhana, tarifnya 30-50 k semalam.
Dari penginapan ini ke desa Kampangar kalau tidak salah masih sekitar 8-9 km.

4. Bawalah keperluan logistik (makanan dan minuman yang cukup selama berada di pulau tersebut)

5. Jangan lupa membawa peralatan untuk berenang dan snorkeling karena keindahan bawah lautnya sungguh sayang untuk dilewatkan.

6. Di Balantak sinyal telepon selular masih OK. Namun di Pulau Dua tidak ada sinyal telepon seluler.


Trip ke sisi Pulau Dua yang lain (yang lebih OK) silahkan baca postingan saya disini



Monday, June 10, 2013

Masih Tentang Lenyek (Postingan di Detik Travel)



Ini postingan saya di Detik Travel tentang kunjungan yang kedua ke Lenyek.
Sumbernya bisa dilihat disini


Friday, May 31, 2013

Trip To Togean Islands



“Berburu Seribu Keindahan di Kepulauan Togean”

Rasa2nya headline Backpacker Magazine edisi Desember-Januari lalu tsb tidaklah berlebihan. Paling tidak saya sudah membuktikannya. Setelah sekian lama memimpikan bisa mengadakan trip kesana (sssttttt….sebenarnya saya sudah merencanakannya sejak masih di Jakarta), akhirnya kesampaian juga di long weekend minggu kemarin.

Untuk menuju kesana kami menempuh rute darat Batui-luwuk-Pagimana-Bunta-Ampana selama delapan jam dan perjalanan laut Ampana - Togean selama tiga jam. 

Sabtu pagi, sang rembulan yang terlambat pulang menyambut kedatangan kami di Marina Beach, Ampana.

Ampana, Selepas Subuh
Setelah bertemu dengan Pak Edi (pemandu perjalanan kami), kamipun bergegas untuk tidak membuang waktu dan segera naik kapal. Untuk mengisi perut di pagi hari, nasi kuning bungkus yang kami order secara dadakan-pun kami bawa untuk dimakan di atas kapal.














Perjalanan ke kepulauan Togean dengan mengarungi Teluk Tomini pun dimulai.


Keceriaan di Atas Kapal

Tak terasa sekira tiga jam mengarungi Teluk Tomini, sampailah kami di pulau kecil nan cantik dengan resort sederhana yang bernama Poyalisa Cottage. Perjalanan panjang yang cukup melelahkan terbayar sudah begitu kami menginjakkan kaki di pulau tersebut. ‘Welcome to Paradise’

Welcome to Paradise

Dermaga kecil dengan warna air lautnya yang sangat jernih langsung terhubung dengan restaurannya. Ternyata restauran dan dermaga itu sendiri merupakan sebuah karang yang agak besar dan merupakan pintu masuk ke Poyalisa Cottage. Pasir pantai di Poyalisa berwarna putih dan sangat halus.  Boss saya yg orang Jepun langsung bilang…”Waaauuww…..it’s a very nice lagoon….”

Kapasitas cottage yang tidak terlalu banyak, membuat Pulau tersebut seperti ‘Private Island’. Sebab selama kami berada disana memang hanya ada bbrp grup wisatawan dari Amerika dan Eropa. 

Wisatawan pribuminya ya cuma kami ini. Itupun masih dikorting lagi karena dua orang rekan kantor yang berkebangsaan Jepang ikut dalam rombongan kami..hahaha..

Poyalisa, view from the hill

In front of Cottage

Blue Sea & Blue Lagoon




















 























Setelah check-in, sambil menunggu makan siang kami berenang dan snorkeling di didepan lokasi penginapan kami.  

Snorkeling Team








Poyalisa - Under Water




Setelah puas snorkeling dan dilanjutkan dengan makan siang, kami segera memulai hopping islands di seputaran pulau Bomba. Pemandangan gugusan pulau pulau kecil, hamparan langit nan cerah, tarian awan berarak dan semburat putihnya yang mempesona mengiringi perjalanan kami. Sungguh suatu siang yang indah.



The Atolls

 

Kampung Suku Bajau (Bajo) dan Kearifan Lokalnya
Di pulau Saitu, salah satu pulau dimana suku Bajau (Bajo) tinggal, kapal bergerak agak menepi untuk memberi kesempatan kami mengambil gambar. 





Sebenarnya ingin sekali saya mengunjungi lokasi pemukiman suku Bajo di Pulau Malenge. Sebab disana ada jembatan yang sangat panjang yang menghubungkan antara dua pulau. Sayang lokasinya sangat jauh, sedangkan kapal yang kami gunakan adalah kapal biasa dan bukan speed boat.



Melihat dari dekat perkampungan suku Bajo ini saya jadi teringat sewaktu mengunjungi Kampung Luar Batang di Pelabuhan Sunda Kelapa beberapa waktu lalu. Jika melihat kondisi bangunannya, barangkali tidak terlalu jauh bedanya. Namun jika membandingkan kondisi kebersihannya terlihat sangat jauh bedanya. Barangkali kearifan lokal suku Bajo-lah yang membuat bangunan rumah-rumahnya yang terapung terlihat bersih di bawahnya, sehingga warna air laut di kepulauan Togean yang menakjubkan ini masih tetap bisa terjaga di sekitar perkampungan tsb.  


Bajo Village

Setelah melewati perkampungan suku Bajo, kapal segera melanjutkan perjalanan. Kami berhenti di sebuah spot yang dinamakan Katrin Reef untuk snorkeling. Sungguh menakjubkan pemandangan di sekitarnya, apalagi pemandangan bawah lautnya. Terus terang inilah pertama kalinya saya melihat air sebegitu jernihnya. Sebelumnya saya pernah snorkeling di beberapa pulau di sekitar Kepulauan Seribu, juga di Pulau Oar di Jawa Barat. Namun saya kira kejernihan air di Teluk Tomini ini sukar dicari tandingannya di pulau Jawa.


 Hijau tosca, blue turquoise, blue sapphire, entah warna apalah namanya untuk melukiskan keindahan perpaduan warna dan betapa jernihnya air laut di tempat tersebut. Terkadang malah warnanya terlihat seperti biru kristal Persia.  


Snorkeling @ Katrin Reef

Kapal segera melepas jangkarnya. Sebagian dari kami menghabiskan waktu dengan snorkeling dan sebagian yang lain memilih memancing dari atas kapal. Di spot ini banyak terdapat karang karang yang cukup tinggi untuk tempat kami berpijak. Sebagian kami, termasuk saya sendiri berenang tanpa mengunakan live vest/pelampung. Maka karang2 ini kami jadikan tempat berpijak jika sudah kelelahan berenang.

Amazing Under Water - Katrin Reef

Bikin lupa waktu

Mancing Mania

Tak terasa waktu kami lewatkan dengan snorkeling dan memancing di tempat tersebut. Mentaripun bersiap pulang ke peraduannya. Kami menikmati panorama senja dari atas kapal diantara gugusan kepulauan Togean.

Senja di Togean





Langit Senja Yang Menawan







































Selepas makan malam, bermandikan cahaya purnama kami berpesta lobster…

Full Moon - Lobster Party

Menjelang dini hari hujan turun dengan derasnya. Oya, di Poyalisa Cottage listrik hanya dinyalakan jam 6 sore sampai jam 10-11 malam. Maka ketika hujan lebat turun dan tidak ada penerangan kami agak bermalas-2 an untuk bangun dan melihat2 keluar bangunan cottage.

Dan benar saja, ketika kami keluar ternyata air lautnya naik dan menutupi pantai berpasir putih di sekeliling kami. Suara debur ombakpun terdengar dengan kerasnya. Padahal, sebelumnya di laguna ini airnya sangat tenang dan hampir tidak ada ombaknya.

Jalan menuju restoran/dermaga terendam air


Sambil menunggu air laut surut….it’s P*p Mie time.



Seorang Bapak -barangkali penghuni pulau Bomba- berbaik hati memanjat pohon kelapa dan memberikannya kepada kami. Air kelapanya manis lohhh…nggak seperti air kelapa di Pulau Tidung. 

Beruntung air laut segera surut. Lanjuuutttt….main pasir di pantai dan perahu-perahuan. 


Ritual Main di Pantai



 
Bersampan - Ria

Kelapa muda (lagi). Serasa kebon sendiri..hihihi...



















Tak terasa mengingat perjalanan pulang yang panjang, kami segera check-out dan meninggalkan pulau tersebut.  Seorang bule amerika dan pasangannya meminta ijin pada kami agar diperbolehkan utk menumpang kapal kami ke Ampana. Dari Ampana mereka berencana melanjutkan perjalanan ke Tanah Toraja.

Mereka sudah sembilan hari tinggal di Poyalisa. Sedangkan kami cuma satu malam (??) Ohhh….sungguh dunia ini sangat tidak adil….hehehe. Selama sepuluh bulan terakhir mereka berkelana ke negara2 di Asia Tenggara dan mereka adalah penyelam. Ketika saya tanyakan tempat mana yang paling indah di Asia Tenggara ini, Well -si bule Amerika ini- menjawab ‘Thailand’. Wah, saya sempat keqi juga. Masa sih, negara saya tercinta ini kalah sama negara yang lebih kecil. Namun dia segera melanjutkan, “but for underwater view, Indonesia is the best in the world, I think”. Hati saya langsung berbunga-bunga. Horeeee......Bravo Indonesia…..
Mudah2 an ini adalah pernyataan tulusnya, bukan karena takut nanti bakal kami turunin di tengah laut...hehe..


Dan berakhirlah kunjungan singkat kami di surga kecil bernama Poyalisa Cottage, sebuah tempat terpencil diantara gugusan kepulauan Togean yang lebih terkenal di manca negara ketimbang orang2 Indonesia sendiri.




Bye...Paradise.....



Para pegawai cottage yang ramah dan 2 orang bule melepas kepergian kami di dermaga Poyalisa.











Pulang

Poyalisa dan Pulau Bomba hanyalah sebagian kecil diantara luasnya Taman Nasional Kepulauan Togean. Semoga saya bisa kembali lagi kesana untuk berburu 999 keindahan di pulau2nya yang lain.