Friday, December 30, 2011

Azas Kesetaraan Derajat Dalam Keseharian Kita

Seorang sahabat perempuan saya pernah bercerita bahwa suaminya merasa tidak terima sewaktu ia mengantarkan anaknya ke sekolah, pembantunya duduk di kursi belakang. Mau duduk di depan, takut disangka istrinya. Namun ketika akhirnya pembantunya duduk di bangku belakang, ia tidak bisa terima. Sahabat saya tersebut menanyakan pendapat saya mengenai hal ini.
"Kalau aku sih Oke-oke aja, nggak masalah jika memang karena keadaan harus begitu", ujar saya ketika itu.

Ya! Saya seorang egalitarian. Bukannya sombong, namun inilah salah satu sikap baik yang dianugerahkan Tuhan tertanam dalam jiwa saya. Setiap orang punya harkat dan martabat yang sama. Tidak peduli ia kaya atau miskin, majikan ataupun pembantu, manajer ataupun office boy, semua adalah sama di mata Tuhan. Dalam kitab suci bahkan dikatakan bahwa yang membedakan diantara kita adalah kadar ketakwaan kita masing-masing. Oleh sebab itu sangat salah jika kita berlaku istimewa terhadap orang2 tertentu dan menyepelekan orang-orang dengan profesi tertentu.

Sikap ini bahkan kadang saya rasakan berlebihan. Sebagai contoh, di rumah saya hampir tidak pernah memarahi pembantu rumah tangga kami. Kadang hal ini membuat istri saya protes, sebagai kepala rumah tangga saya tidak bisa berlaku tegas, katanya. Memang, mungkin saya terlalu permisif dalam hal menanggapi kesalahan kesalahan yang dilakukan pembantu di rumah. Menurut saya, mereka adalah pekerja yang patut diberi apresiasi lebih. Bagaimana tidak? Coba saja lihat jam kerja mereka. Mulai dari bangun tidur sampai menjelang tidur mereka harus siap menerima perintah kita. Bahkan kadang ketika mereka sedang asyik-asyiknya terlelap, harus terbangun mendengar teriakan panggilan dari majikannya.

Ahhh....andaikan saya terlahir sebagai mereka, barangkali saya tidak akan sanggup menjalani profesi seperti itu. Kalimat itulah yang selalu ada dalam benak saya.

Kita tidak punya hak untuk memilih terlahir sebagai orang miskin atau kaya. Semuanya merupakan kehendak Tuhan.

Saya ingat pernyataan Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam suatu wawancara. "Saya mengajarkan anak-2 saya untuk berkata tiga hal kepada para abdi dalem (pembantu istana).
1. Permisi
2. Tolong
3. Terima kasih

Pernyataan ini setidaknya mengajarkan kita bahwa pembantu patut di-"orang" kan. Sri Sultan saja yang hidupnya sangat kental dipengaruhi dengan tradisi kerajaan yang feodalis, mengajarkan anak-anaknya untuk berlaku sopan kepada para pembantunya.

Dalam hirarki jabatan maupun hirarki sosial sultan boleh jadi sangat jauh posisinya dibandingkan dengan abdi dalem. Direktur dengan Messenger mungkin bagaikan bumi dan langit. Pegawai kantoran necis boleh jadi dianggap lebih sukses daripada penjual gorengan di pinggir jalan. Namun di mata Tuhan tidaklah demikian.

Untuk kita yang terlahir bukan sebagai orang miskin, sedang tidak berada dalam keadaan yang kekurangan ataupun dalam posisi pekerjaan dengan jabatan rendah…...

Semoga kita dijauhkan dari sikap memandang rendah kepada orang lain.

No comments:

Post a Comment