Tuesday, March 30, 2010

Penerimaan Murid Sekolah Dasar, Satu Lagi Pelajaran Berharga Sebagai Orangtua

Pagi ini, kelabu menyelimuti jiwa saya.
Hari ini adalah pengumuman penerimaan murid baru di sebuah sekolah dasar tempat saya mendaftarkan anak sulung saya yang baru akan memasuki jenjang sekolah dasar.
Kebetulan mamanya anak2 sedang mengawasi ujian nasional di sebuah SMP. Mau tidak mau sebelum ke kantor saya sempatkan mampir untuk melihat pengumuman di sekolah tersebut.
Sebelumnya saya sangat pede bahwa anak saya akan diterima setelah melalui sebuah test. Anak saya memang belum lancar membaca meski telah mengenal semua  huruf alphabet. Ketika mendaftar pihak sekolah sempat mengatakan bahwa yang penting si anak telah mengenal dasar membaca, tidak harus lancar. Maka saya merasa tenang-tenang saja dan yakin bahwa anak saya bakal diterima.
Maka sesampainya di sekolah tersebut saya segera menghampiri papan pengumuman di dekat gerbang sekolah tersebut dimana saya lihat beberapa ibu-2 sedang mencari-cari  nama anaknya. Segera saya cari nama anak saya di tengah kerumunan beberapa ibu-ibu. Karena postur saya lebih tinggi, maka mereka maju di depan saya.
Silih berganti ibu2 di depan saya yang telah menemukan nama anaknya, namun belum juga saya temukan nama  anak saya. Saya terhenyak sekian lama sambil menatap papan tersebut, masih berharap bahwa saya terlewat membaca ke seratus enam puluh deretan nama anak tersebut.
Akhirnya saya menyerah. Nama anak saya tidak ada. “Anak saya tidak diterima”.
Tiba-tiba terlintaslah dalam benak tentang kemalasan2 saya mengajari anak saya sendiri untuk membaca. Betapa sebagai orangtua, sedikit sekali saya mencurahkan perhatian saya untuk anak saya. Selama ini sebagai pembenaran terhadap kemalasan saya, saya menganggap kasihan sekali anak-2 yg masih senang bermain, harus belajar dengan serius hanya untuk ambisi kedua orangtuanya yang ingin anaknya dianggap pintar. Sedih sekali hati saya ketika melanjutkan perjalanan ke kantor.
Dalam perjalanan ke kantor, di antara kesedihan saya teringat sebuah cerita motivasi.
Adalah Nancy Matthews Edison, seorang ibu yang mempunyai anak berumur sekitar empat tahun, suatu hari mendapati anaknya yang rada tuli tersebut pulang lebih awal membawa surat dari guru taman kanak-kanak tempatnya bersekolah. Kata si guru di surat tersebut,”Tommy, anak ibu, tuli dan bodoh. Saya harap ibu mengeluarkannya dari sekolah ini”.
Si ibu terhenyak membaca surat tsb dan segera membuat tekad yang kuat dalam hati, “Anak saya Tommy, memang agak tuli. Tapi ia bukan anak yang bodoh. Saya sendiri yang akan mengajarinya dan membuktikannya”.
Nyonya Nancy mengajari Tommy dengan pendidikan rumahan (Home Schooling) dan benar2 membuktikan tekadnya. Kelak seluruh dunia mengenal Tommy berkat kejeniusannya. Dialah si pemegang patent  lebih dari 1000 macam penemuan penting di dunia ini, Thomas Alfa Edison. “Si bodoh” ini dikenal sebagai penemu lampu pijar, yang tanpa dirinya mungkin kita masih membaca di malam hari menggunakan lilin.
Cerita saya memang tidak sedramatis Nancy dan Tommy. Namun tekad dan semangat Nancy sangat ingin saya miliki.
Anak saya tidak bodoh, saya sangat yakin dengan hal ini. Apalagi hanya karena tidak diterima di sekolah itu. Ini hanyalah akibat dari sebuah proses seleksi yg saya tidak kami perkirakan sebelumnya. (Perasaan waktu saya mau masuk SD dulu nggak pake proses yg beginian)
------------
“Mari Nak, terus belajar yang giat! Kita buat sekolah ini ‘menyesal’ karena telah menolak menjadikanmu salah seorang siswanya.”
“Ayah yakin, kamu pasti bisa…”

 

No comments:

Post a Comment